Posted by: gustika | August 24, 2008

Memorinya memori

Ini adalah cerita tentang seorang anak manusia dengan segala sisi keunikan yang secara natural mengalir dan mengalur menjadi sebuah perjalanan panjang
ya jalan itu masih ada di benakku jalan setapak yang telah ku lewati yang mungkin aku tak bisa menapakinya lagi bahkan sekedar menolehkan badanku sekedar untuk melihat jejak kakiku yang goyah kalau itu.
Tapi begitu episode kehidupan tak slmanya siang dan juga malam tak selalu jadi selimut kehidupan kita..Semuanya adalah garis garis alam yang ada secara natural membentuk jiwa kematangan dan kepahlawanan..Wilayah kehidupan telah menjadikan kita paham bahwa setiap langkah pasti tinggalkan jejak.

Karakteristik yang khas dan unik mestinya dipahami oleh manusia.
Tidak hanya aku kamu dan dirinya begitu juga kita semua tahu benar kapan dan dimana karakter itu tadi dapat bermuara tepat dalam relung hati tanpa adanya kekutan tanpa batas..
andaikata kita mau berungkap secara jujur dan rela mendengar suara alam itu dan biarakan merasuk melalui pembuluh-pembuluh nadi hingga tanpa tersa seluruh jiwa menjadi bagian persenyawan yan fantastis antara akal hati dan pikiran..

Memang benar stiap celah ada jalanya namun tak mudah seperti bunga mawar yang menawan dengan warnaya namun juga duriny menjadi bagian dari keindahanya..

pernah dalam suatu ketika aku hanya terdiam sambil menatap penuh langit senja kala itu lalu munculah terbesit keinginanku sekedar melangkah ulang atas jejak yang telah ku buat dan helaan nafas yang telah kuhirup untuk berikan angin pada layang-layang bocah kecil tak berbaju dan tak bersandal atau sekedar setetes air kepada rerumputan yang meranggas layu…

Dan kucoba ungkapkan lewat diare puisi ini..

Disana di dunia mimpi itu aku melihat

aku melihat awan yang tiada batas,
awan kebebasan,
awan keindahan

Terasa ingin olehku untuk menggapai awan itu

paling tidak akan menjadi teman aku bercerita prosa pendek kehidupanku

dan ketika aku menoleh kebelakang

jelas…

jelas sekali jejak kakiku

jejak kaki yang tak bisa aku hapus apalagi untuk sekedar kembali

untuk memulai perjalanan itu

Sungguh terasa berat kakiku kala itu

sejuta tangan menahanku

mereka berkata tak usah kau bermimpi karena kau sedang bermimpi

hapus semua mimpimu

karena semua telah terjadi

Posted by: gustika | August 23, 2008

rembulan pun menangis

tunggu aja

Posted by: gustika | August 23, 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.